Mengapa serapan lulusan SMK di dunia kerja masih rendah? Pakar pendidikan ingatkan hal ini

Ilustrasi siswa SMK. Mengapa Serapan Lulusan SMK di Dunia Kerja Masih Rendah?

Ilustrasi siswa SMK. Mengapa Serapan Lulusan SMK di Dunia Kerja Masih Rendah?© canva.com

KOMPAS.com – Perubahan lanskap dunia kerja membuat pendidikan vokasi, khususnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), kembali berada di bawah sorotan.

Di banyak daerah, sejumlah jurusan SMK masih menjadi favorit calon peserta didik, meski realitas penyerapan lulusan di pasar kerja menunjukkan kondisi yang tidak seragam dan dipengaruhi beragam faktor.

Print or Fill Out Now - 2010 Surat Keterangan Dokter - Surat Dokter Kosong Jogja Pdf

Print or Fill Out Now – 2010 Surat Keterangan Dokter – Surat Dokter Kosong Jogja Pdf

SignNowSignNow·Bersponsor

call to action icon

Dilansir dari Kompas.com (5/12/2025), Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Pelindungan Pekerja Migran, Leontinus Alpha Edison, mengungkapkan tingginya jumlah lulusan SMK yang belum terserap kerja menjadi alarm perlunya percepatan transformasi vokasi.

Ia mencatat, sekitar 1,63 juta lulusan SMK hingga kini belum memperoleh pekerjaan.

Kondisi serapan lulusan SMK di dunia kerja yang masih rendah tersebut memunculkan urgensi untuk meninjau kembali keterkaitan antara pilihan jurusan, kompetensi yang dihasilkan, dan kebutuhan nyata pasar tenaga kerja.

Pendekatan yang lebih komprehensif diharapkan mampu mendorong penyelarasan pendidikan SMK dengan dinamika industri serta karakteristik sosial-ekonomi daerah.

Baca juga: Jurusan yang Tak Lagi Relevan Mulai 2026 Menurut Pakar Pendidikan, Apa Saja?

Jurusan ramai tak selalu relevan

Pengamat pendidikan dari Perguruan Taman Siswa, Darmaningtyas menilai rendahnya serapan lulusan SMK di dunia kerja tidak bisa serta-merta disimpulkan sebagai akibat ketidaksesuaian kompetensi dengan kebutuhan industri.

Menurutnya, persoalan tersebut masih menyisakan ruang perdebatan karena berkaitan dengan struktur pasar kerja yang terbatas dibandingkan jumlah lulusan yang dihasilkan setiap tahun.

Laporan Keuangan Instan - Akuntansi Praktis untuk UKM - Coba Gratis Accurate Online

Laporan Keuangan Instan – Akuntansi Praktis untuk UKM – Coba Gratis Accurate Online

accurate.id·Bersponsor

call to action icon

Ia menjelaskan, sering kali narasi yang berkembang menyebut lulusan SMK tidak terserap karena keterampilannya tidak sesuai kebutuhan industri.

Namun, asumsi itu belum tentu sepenuhnya benar.

Baca juga: Daftar Kampus dengan Jurusan S1 Teknik Sipil Terbaik di Indonesia 2025

“Bisa saja persoalannya bukan pada kompetensi, melainkan karena jumlah lulusan SMK jauh lebih banyak dibandingkan dengan lapangan kerja yang tersedia. Jadi belum tentu karena kompetensinya tidak sesuai,” ujarnya.

Darmaningtyas menekankan, tanpa pemetaan yang jelas antara supply dan demand tenaga kerja, kebijakan pendidikan vokasi berisiko salah sasaran.

Dalam konteks ini, evaluasi terhadap jurusan-jurusan SMK yang tetap diminati meski tingkat serapan kerjanya terbatas perlu dilakukan secara menyeluruh dan berimbang.

Penelaahan tersebut tidak semata-mata menitikberatkan pada kurikulum atau kualitas lulusan, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan industri, kondisi daerah, serta ketersediaan lapangan kerja.

Baca juga: 7 Jurusan Kuliah yang Dinilai Relevan pada 2026, Apa Saja?

Jurusan SMK terlalu ikuti tren, bukan kebutuhan wilayah

Lebih lanjut, Darmaningtyas menyoroti pola pembukaan jurusan dan penentuan kuota SMK yang selama ini cenderung mengikuti tren minat masyarakat, bukan kebutuhan tenaga kerja berbasis wilayah.

Fenomena ini, menurutnya, turut berkontribusi pada rendahnya daya serap lulusan di sektor-sektor tertentu.

“Selama ini pembukaan jurusan itu mengikuti pasar, pasar mana? Pasar yang dianggap banyak diminati. Ketika satu jurusan ramai, semua ikut membuka,” katanya.

Ia mencontohkan jurusan teknologi informasi yang dibuka secara masif di berbagai daerah, meskipun tidak semuanya memiliki ekosistem industri digital yang kuat.

“Misalnya soal IT, rame-rame membuka IT, padahal daerah tersebut tidak berbasis kebutuhan IT yang tinggi,” ujarnya.

Menurut Darmaningtyas, idealnya penataan jurusan SMK disesuaikan dengan karakter ekonomi dan potensi daerah agar lulusan memiliki peluang kerja yang realistis.

Baca juga: Pakar Ungkap 3 Jurusan SMK Ini Sudah Tidak Relevan untuk Dunia Kerja Mulai 2026, Apa Saja?

“Kalau daerahnya perkebunan, ya yang dibuka SMK Perkebunan. Kalau daerah pertanian, SMK Pertanian. Jangan di daerah pertanian malah membuka jurusan yang tidak ada lapangan kerjanya,” kata dia.

Meski demikian, ia menilai ada perbaikan dalam beberapa tahun terakhir.

Pemerintah, khususnya melalui Direktorat Jenderal SMK di bawah Kementerian Pendidikan, disebut terus melakukan kajian terhadap relevansi program studi.

“Sekarang saya lihat pemerintah pendidikan dasar dan menengah, melalui Ditjen SMK, sudah terus mengkaji prodi mana yang masih diperlukan dan mana yang tidak, dan relatif lebih fleksibel untuk membuka atau menutup prodi,” ujarnya.

Darmaningtyas menegaskan penataan ulang jurusan SMK merupakan langkah krusial agar pendidikan vokasi selaras dengan kebutuhan industri, dinamika teknologi, dan kondisi sosial-ekonomi daerah.

Dengan begitu, lulusan SMK tidak hanya dibekali keterampilan, tetapi juga memiliki peluang kerja yang nyata.

Baca juga: 22 Universitas dengan Jurusan S1 Arsitektur Terbaik di Indonesia 2025

SUMBER: Mengapa serapan lulusan SMK di dunia kerja masih rendah? Pakar pendidikan ingatkan hal ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *